Sejarah Pencak Silat_064_20B

Muhammad Aghniyaa-u Romadlon

20060484064

2020 B


Dalam buku 1 dan 2 berkaitan dengan sejarah Pencak Silat

Buku (1)

Pencak Silat merupakan unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil turun temurun. Di masa lalu beberapa daerah di Jawa lazimnya digunakan nama Pencak. Sedangkan, di Sumatera orang menyebutnya dengan Silat. Sedang kata Pencak Silat sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata Silat.

Pencak, dapat mempunyai pengertian dasar bela diri, terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan. Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri atau manusia dari bencana bisa dari dalam maupun luar lingkungan kita.

Ada 4 zaman yang telah dilewati sampai sekarang ini 

Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda

Nenek moyang kita memiliki peradaban yang tinggi sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju. Tata pembelaan diri di zaman tersebut didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi dengan dasar sistem pembelaan diri, baik menghadapi perjuangan hidup maupun berkelompok. Contohnya pasukan kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi dengan diberikan keunggulan dalam ilmu pembelaan. Untuk menjadi pendekar diperlukan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu bela diri dipupuk bersama ajaran kerohanian.

Perkembangan pada zaman penjajahan Belanda

Karena dipandang berbahaya bagi kelangsungan masa jajahannya. Oleh karena itu, diberlakukan larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya. 

Hanya sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara. Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang. Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.

Perkembangan pada zaman penjajahan Jepang

Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu. Atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat. Di Jawa didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur Pemerintah. Di Jakarta telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, diusulkan sebagai gerakan olahraga setiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak Shimitsu khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun diberi kesempatan untuk menghidupkan warisan bangsa kita, tujuannya untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang bukan untuk kepentingan Nasional.

Perkembangan pada zaman kemerdakaan

Walaupun pada zaman penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dikembangkan sebagai identitas Nasional. Pentingnya mengembangkan peranan pencak silat maka perlu adanya organisasi pencak silat yang bersifat nasional, yang mengikat aliran-aliran pencak silat di seluruh Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 1948, terbentuklah Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro dengan susunan pengurus dan tercatat sebagai organisasi silat nasional tertua di dunia.

Program utamanya adalah mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah. Kemudian, kurang mendapat perhatian yang dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini dilakukan pengukuhan bagi seni bela diri bangsa Indonesia dengan nama "Pencak Silat" yang memiliki arti majemuk

Buku (2)

SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

Menurut informan Pencak Silat aliran Cimande pertama kali diciptakan dari seorang Kyai bernama Mbah Kahir. Mbah Kahir adalah seorang pendekar Pencak Silat yang disegani. Pada pertengahan abad ke XVIII (kira-kira tahun 1760), Mbah Kahir pertama kali memperkenalkan kepada murid-muridnya jurus silat. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai Guru pertama silat Cimande.

Mbah Kahir bertempat tinggal di kampong Cogreg, Bogor, ditepi Cimande. Di Cogreg itulah ia mengajarkan dan memberi latihan Pencak Silat kepada murid-muridnya. Kemudian murid-muridnya menyebar luaskan Pencak Silat tidak hanya di daerah Bogor, tetapi sebagian besar daerah Jawa Barat seperti Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek, Purwakarta, Subang, Priangan (Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Kuningan, dan Cirebon). (Siti M, Herliswanny R;  dalam http://indonesia.silatcenter.com/html/cimande.html;)

Sewaktu masih di Cogreg Bogor Mbah Kahir sering berpergian meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah dengan jual beli kuda. Perjalanan yang ditempuh masih sangat rawan, karena itu dalam perjalanannya Mbah Kahir sering mengalami gangguan baik dari binatang buas maupun dari perampok. Untuk mengatasi itu, Mbah Kahir berusaha menciptakan suatu gerakan yang dapat melindungi dirinya daridari ancaman pihak lawan. Untuk itulah menurut informan, Mbah Kahir beristikharah dan shalat tahajud yang bertujuan untuk meminta inspirasi dari Allah SWT intuk mendalami Silat. Akhirnya Mbah Kahir mempelajari Silat berdasarkan Al Qur’an

Dalam mencari nafkah dengan jual beli kuda Mbah Kahir sering pergi ke Betawi. Di Betawi, ia berkesempatan berkenalan dengan pendekar-pendekar silat orang Sumatera dan Cina yang ahli dalam persilatan. Perkenalannya dengan para pendekar itu menjadikannya tambahan ilmu pengetahuan tentang Pencak Silat. Ilmu yang didapat kemudian dikembangkan sehingga Mbah Kahir menjadi terkenal sebagai Pendekar Pencak Silat. Kecepatan gerak langkah dan pukulan serta kuda-kuda yang selalu disertai dengan keseimbangan badan merupakan gerakan ampuh dalam serangan dan tangkisan.

Dalam menjalankan usahanya, Mbah Kahir sampai ke Cianjur. Dalam perjalanannya pernah diganggu para perampok, tetapi berkat ilmu Pencak Silat yang dipunyainya, beliau selalu selamat dan sampai tujuannya ke Cianjur dan kembali ke Cogreg Bogor. Pada tahun 1770, Mbah Kahir menikah dengan orang Cianjur dan kemudian pindah ke Cianjur dan bertempat di Kampung Kamurang, Kecamatan Mande. Disana ia mengajarkan ilmu Pencak Silat Cimandenya. Kepada para pemuda. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Cianjur adalah Bupati ke VI yakni Raden Adipati Wiratanudatar, yang disebut Dalem Cikundul ( 1776-1813 )

Begitu terkenal Mbah Kahir sebagai Pendekar Pencak Silat, maka putera Bupati Wiratanudatar disuruh belajar Pencak Silat padanya. Begitu pula para pegawai Kabupaten dan para petugas keamanan belajar Silat kepadanya. Pada suatu ketika, Mbah Kahir diuji oleh Bupati Cianjur untuk bertanding Silat dengan perantauan Cina dari Macao. Pertandingan Silat ini diadakan di alun-alun Cianjur dengan dihadiri para pembesar, keluarga Bupati dan masyarakat setempat. Dalam pertandingan ini ternyata dimenangkan oleh Mbah Kahir. Semenjak itulah Mbah Kahir jadi bahan cerita dimana-mana.

Pada tahun 1815 Mbah Kahir kembali ke Bogor dan meninggal tahun 1825. Mbah Kahir mempunyai 5 orang anak laki-laki, yakni Bp. Endut, Bp. Ocod, Bp. Otang, Bp. Komar, dan Bp. Oyot. Kelima anaknya inilah yang kemudian menyebar luaskan Pencak Silat Cimande dari Bogor melalui Cianjur ke Bandung dan hampir ke seluruh Jawa Barat. Sementara itu daerah Bogor, yang meneruskan Pencak Silat Cimande adalah murid-murid Mbah Kahir bernama Mbah Ace yang meninggal di Tarikolot / Cimande. Hingga sekarang keturunannya menjadi sesepuh Pencak Silat Cimande.

Oleh karena itu dalam permulaan abad ke XIX Pencak Silat dan Mbah Kahir di Jawa Barat tidak dapat dipisahkan. Pakaian Mbah Kahir sehari-hari jadi model pakaian Pencak Silat hingga sekarang, yaitu celana dibawah lutut berkolor (sontog) atau panjang lepas model Cina disebut “pangsi“ baju “kampret“ bertali atau berkancing dan di kiri kanan sebelah bawah terbuka sepanjang selebar tangan. 

Dalam perkembangannya, Pencak Silat Cimande diterima secara luas oleh masyarakat Jawa Barat dan menyebar ke segala pelosok. Berdasarkan pola Cimande berkembang pula anak-anak aliran seperti Sera dan Ciwaringin. Dalam perkembangannya, ada yang kemudian mengadakan perubahan-perubahan jurus, seperti yang dilakukan oleh Bp. H. Abdul Rosid. Akan tetapi perubahan itu tidak prinsipil hingga gerakan dasar dan aliranpun tidak berubah namanya, tetap Cimande. Banyak murid-murid Mbah Kahir yang meneruskan dan mengajarkan Ilmu Pencak Silat ditempatnya masing-masing.

Dewasa ini, Pencak Silat aliran Cimande sudah terkenal dan tersebar diseluruh Nusantara. Di desa Cimande sendiri, Pencak Silat tidak berada dalam satu tatanan organisasi. Maksudnya tidak ada struktur organisasi. Penyebarannya lebih bersifat kekeluargaan. Jelasnya Pencak Silat Cimande menyebar melalui para keturunan dan anak muridnya dengan tahapan yang tidak terorganisir. 

Dalam rentang waktu yang panjang tersebut. Pencak Silat ini telah melahirkan murid-murid yang banyak. Para murid ini berguru kepada para sesepuh, kemudian mengembangkan kembali ilmu yang dimilikinya. Hasil berguru inilah kemudian baik sepengetahuan gurunya atau tidak, telah melahirkan berbagai perguruan atau Padepokan Silat masing-masing daerah asalnya.

Pencaplokan“ nama Cimade sebagai simbol perguruan Pencak Silat tidaklah menjadi larangan. Selain itu, ada yang mendirikan padepokan dengan nama lain tetapi “isinya“ adalah jurus-jurus Cimande. Hal ini menunjukkan bahwa Pencak Silat Cimande sedikit banyaknya telah dijadikan dasar bagi berkembangnya suatu “aliran“ Pencak Silat



 

Komentar

Posting Komentar